Luka hati takkan terobati

Takut terjatuh akan tulus nya hati.

Tidak peduli, atau cuek hanya membuat penasaran.

Terbawa perasaan atas lembutnya aliran hati yang lain.

Memakai hati, itu menyakitkan.

Bila sudah dipercaya, kemudian mengecewakan.

Bersabar penuh, amat melelahkan.

Dipertahankan terus, tidak akan benar.

Sudah seperti ini, baru menyesali perbuatan sendiri.

Manusia..

Tiada lelah berbuat ulah.

Rotasi kehidupan

Permainan baru saja dimulai

Dimana mereka yang jahat akan terlihat baik

Dan yang baik akan lebih jahat dari itu

Karena yang terlihat putih diluar sejatinya hitam didalam.

Begitupun sebaliknya

Jangan memandang apapun hanya sebelah. Tetapi hargailah semua hal yang tak terduga

Rumah es beratap awan

Pernahkah anda mendengar istilah broken home ?

Tidak semua orang tua memahami keadaan itu. Siapakah yang berperan utama didalamnya?

Seorang anak terlahir dari ayah dan ibu yang tak pernah diketahui awal mula perkenalan nya.

Yang hanya ia tahu adalah perpecahan yang berkeping-keping.

Tak pernah disadarinya, bahwa ia terus bertanya sepanjang kehidupan.

Perkataan tak terucap, pertanyaan tak terdengar, jeritan hampa tak bersuara, rahasia terpendam. Jawaban tak terlihat masih bersembunyi dibalik keruh nya masa depan.

Sadar setengah jalan, terlanjur rusak sekujur tubuh.

Apa? Sekarang mau apa, sudah tiada harapan menyembuhkan luka.

Namun agaimana ia bisa bertahan hingga detik ini?

Cahaya biru tua

Dibawah rawa yang dalam ada bunga yang bersinar
Cahaya tak biasa berpendar sejauh mata memandang
Kasih sayang merah muda
Terpisah dengan cinta berwarna biru tua

Datang keduanya saling mendahului
Dia lebih awal, tapi kau yang pertama
Dia yang kedua, namun kau sedikit terlambat.
Cahayamu mempesona mengundang diriku kembali.
Tangis pilu tawa bahagia,
Melupakan yang begitu sulit dan tak sedikit waktu terbuang
bimbang gelisah, berteriak kencang
Terlambat si merah muda itu terlanjur mengikatku
Awan putih memudar, menjadi kelabu

Oh mawar biru tua menyebalkan
hati tak bersuara menggema di angkasa jiwa.
Menyebut namamu penuh tawa tak berkesudahan.

Cinta gila ini adalah mawar biru tua
Racun dengan cepat menyebar
Duri menusuk tajam
Aku jatuh, kemudian hancur dengan cahayamu
Hatiku terpecah berteriak tertahan

Aku akan kembali padamu, aku jatuh cinta padamu
Kau mengambil hatiku kembali
Untuk bersamamu, itu maumu

Bahkan jika aku terluka, itulah karena cahayamu, mawar biru tua
Kembali padaku bersama merah muda nya kasih sayang
Mawar biru…
Bahkan jika kau terluka, maafkan aku menerima keinginan mu
Untukmu ku kembali padamu.
Menangis kegembiraan, hujan deras untuk
Mawar biru…

Oh mawar biru tua yang menyebalkan
hati tak bersuara menggema di angkasa jiwa.
Menyebut namamu penuh tawa tak berkesudahan.

Cinta gila ini adalah mawar biru tua
Racun dengan cepat menyebar
Duri menusuk tajam
Aku jatuh, kemudian hancur dengan cahayamu
Hatiku terpecah berteriak tertahan

Hari ini adalah sebuah doa di masa lalu
Jangan salahkan siapapun,
hanya diri yang tidak bersabar penuh
Maafkan aku
Mawar biru tua, aku masih mencintaimu
Seperti yang kau rasakan padaku

Cinta gila ini adalah mawar biru tua
Racun dengan cepat menyebar
Duri menusuk tajam
Aku jatuh, kemudian hancur dengan cahayamu
Hatiku terpecah

Jantung berdetak kencang, bersemi kembali
Dalam lautan sembilan kilometer tak berkesudahan.

Ldyne x onewe

Tak cukup dengan cinta, tak hanya oleh uang

Cinta saja tak akan cukup untuk membangun kehidupan.

Kehidupan pula perlu uang untuk terus berjalan, karena di dunia ini tidak ada yang gratis, tidak dapat dibeli dengan cinta.

Begitu pula dengan uang, yang tidak selamanya dapat membeli segalanya, Seperti cinta. Apakah kamu tahu?

Kamu sendirian dan banyak uang. Apakah cukup untuk bertahan hidup? Tidak ada cinta dan kasih sayang dari siapapun termasuk kamu sendiri untuk mencintai seseorang.

Apakah kamu bisa memaksa seseorang dengan dengan uang untuk membeli cintanya?

Memang bisa saja, tetapi… Apakah dia tulus mencintai kamu?

Tidak, dia hanya mencintai uang mu.

Tetapi bila cinta hadir dengan tulus, untuk seseorang yang memang sama, namun materi, ia tidak mampu membeli segalanya dengan uang.

Apakah cinta bisa dipaksakan?

Bisa saja, namun apakah tidak lelah?

Perubahan atau Alam yang Tidak Berpihak

Oleh : L.Diana

Ada segumpal darah kian mengeras
Ada hati yang mulai membeku
Merah nya tak lagi merekah
Warna merah mulai memudar

Tetes noda kian mengguyur.
Masalah kian melanda
Patahan cermin merasuk
Kritikan pahit merasuk pikiran
Duri kecil terus menusuk
Perkataan tajam menusuk hati

Rapuh terhanyut pilu
Keserihan melanda, Hati ini mulai rapuh
Irama detaknya tak teratur
Detak jantung seperti aritmia

Darah mengalir bercampur tinta
Darah merah seolah musnah
Hitam pekat menggores manis
Menjadi hitam hari yang mula cerah
Pahit getir membungkus jiwa
Jiwa ini pahit hetir
Raga terhempas, sukma terkapar

Kuatkan aku tak terucap lagi

Aku lelah dibawah putus asa
Waktu berlalu sudahlah banyak
Terbuang dengan rangkaian makna
Tersusun perlahan, merajut kekuatan
Hilang harapan sudahlah pasti

Tak kuasa melihat mereka
Tak ingin lagi terjatuh dalam
Tak mampu berbuat banyak pada khalayak
Tak bisa menerima apapun sembarangan

Ada selaput kian membatasi
Membran pelindung membentengi
Filter kehidupan penolak derita
Garis merah melintang tajam

Langit biru berteriak kencang
Rembulan menangis sayang tertahan
Mentari terpejam menatap tekad
“Wahai dirinya… Mengapa kau lakukan itu.
Kepercayaan mu untuk siapa?”

Segumpal darah mendesis tertahan
Apakah salah bila kepercayaan ku hilang untuk siapapun.
Apakah salah jika aku harus bahagia
Apakah jangan bila sekali saja Tak pernah terluka

Haruskah aku menangis sepanjang hidup
Ombak menderu, Lautan menggelora
Hujan mengguyur, Petir menggelegar
Aksara berbaris menyusun cerita
Penuh makna serta wibawa
Tidak lagi selain mereka yang kupercayai.
Sang pencipta ..
Aku mempercayai setiap titik liku-liku yang kau beri

Trauma mengguyur memenuhi lautan
Bak air memantulkan bayangan
Itulah cermin kehidupan.
Belajar dari sebuah cermin sejuta gambaran.
Kini, segumpal darah itu sesungguhnya memahami.

Dia beristirahat memuntahkan tinta hitam pekat

Kepercayaan yang hilang
Semi putus asa
Mulai mengikuti arus kehidupan

26 jul 18 22:16

Bisa kah

Bolehkah aku menangis?
Aku terus-terusan berpura2 kuat. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Aku seperti seseorang yang putus asa. Aku pesimis dan mengikuti alur kehidupan. Mudah menyerah, aku yang bersikap bodo amat dan terserah. Aku pemalas. Mengapa… Tidak bermaksud aku menyalahkan orang lain. Aku juga boleh berpendapat kan, berhak mengungkapkan isi hati dan pikiran ku bukan.
Aku terpaksa bekerja disana. Aku sudah menolaknya beberapa kali, tetapi paksaan dari mereka semakin kuat. Aku kalah. Sudah aku tertekan depresi, semakin depresi pula Karena hal itu. Kamu jangan pesimis, kamu tahu kan… Semuanya gak ada yang langsung bisa. Dulu kamu gabisa jalan gabisa bicara, kamu belajar sejak kecil hingga sekarang bisa.
Aku faham hal itu, aku tahu. Kalian yang hanya salah pengertian. Tidak, aku bukan bermaksud pesimis, aku hanya sadar bahwa diriku tak pantas dipertahankan karena keterbatasan kemampuan. Bukankah dalam lingkungan kerja tersebut diharapkan bisa komputer, bisa tahu rumus exel, berpengalaman menjadi kasir , berpenampilan menarik,, minimaln sma. Sedangkan aku ? Aku hanya menyadari diriku sendiri bahwa aku memang gadis biasa, kuno, tidak pandai komputer, bodoh dalam jual beli. Dan bukankah yang terpenting dalam dunia kerja itu adalah profesionalitas. Kepribadian lebih utama. Aku tidak cocok dengan Dunia kerja yang seperti itu. Aku minder.. aku introvert, aku cuek, tidak ramah, tidak manis. Aku hanya sadar diri bahwa semua persyaratan tersebut tidak masuk kriteria diriku. Hanya diri sendiri yang merasakan dan bukan orang lain. Jika kalian memaksa ya aku akan terpaksa… Dan jika kalian berpikir semuanya adalah kebahagiaan, maka aku akan terluka. Aku akan menganggap kalian tega